Featured Posts

[Anime][feat1]

Review: Boku Dake ga Inai Machi/The Town Where Only I Was Erased


“’I want to believe people” is the same as “I want them to believe me.” - Katagiri Airi.


Setelah sekian lama akhirnya saya menyempatkan diri untuk menulis review lagi. Hampir setahun tepatnya sejak postingan terakhir (biar keliatan sok sibuk pisan, padahal mah males nulis XD). Biasanya sih saya menulis review karena yang direview itu sesuatu yang benar-benar meninggalkan kesan yang dalam setelah membacanya atau menontonnya (karena review di blog saya palingan cuman bahas film, anime, manga, novel etc. hehe).

Ya karena alesan di atas pula lah yang membuat saya berniat untuk menulis review tentang anime dan manga “Boku dake ga Inai Machi” atau The Town Where Only I Was Erased, in English, dan sebut saja “BokuMachi” biar ga cape juga ngetiknya. Hingga postingan ini dibuat, status anime dan manga BokuMachi ini masih on going, delapan episode anime yang baru airing dan 40 chapter manga yang diunggah oleh scanlation luar negeri berbahasa Inggris. Dan bulan Maret nanti, manga dan anime-nya akan tamat pada bulan yang bersamaan dengan premier film Live Action BokuMachi (tayang perdana 19 Maret di Jepang sana). Saya ngarep film ini tayang juga di Indonesia seperti beberapa film Live Action adaptasi manga/anime yang pernah tayang di Indonesia sebelumnya. Kenapa? Mungkin review ini bisa membantu menjabarkan alasannya...

SINOPSIS   

BokuMachi berkisah mengenai seorang mangaka (penulis manga) yang berusia 28 tahun bernama Satoru Fujinuma yang memiliki kemampuan untuk mengulang suatu kejadian untuk menemukan suatu kejanggalan dalam kejadian tersebut, yang mana kemampuan tersebut, sebut saja revival, tidak keluar atas kehendak dirinya. Kejadian yang mana terdapat kejanggalan di dalamnya akan terus berulang hingga Satoru menemukan kejanggalan tersebut dan tentunya akan merubah hasil (akibat) dari kejadian tersebut. Butuh pemicu (trigger) untuk revival tersebut untuk terjadi.

Satoru dibesarkan oleh Ibunya sendiri (single parent), Sachiko Fujinuma yang merupakan mantan reporter TV Berita Lokal di suatu Kota di Hokkaido. Sebelum akhirnya memutuskan untuk tinggal mandiri di Chiba dan menggeluti profesinya sebagai mangaka dan bekerja sampingan sebagai pengantar makanan di restoran pizza dimana dia bertemu dengan pekerja part-time lainnya, Katagiri Airi. 

Cerita berawal ketika Satoru yang sedang mengantarkan pizza merasakan bahwa revival akan terjadi. Dia melihat seorang anak SD yang akan menyeberangi jalan, lalu truk yang hilang kendali beberapa meter tak jauh darinya. Pengelihatan itu terus berulang.  Satoru sadar harus menemukan kejanggalan untuk menghentikan pengulangan tersebut. Ia memutuskan untuk mencari kejanggalan tersebut dan ternyata adalah supir truk yang hilang kendali tersebut tak sadarkan diri. Sadar bahwa truk tersebut mengancam anak yang hendak menyebrang, Satoru memutuskan untuk “ikut campur/mencampuri takdir” dengan berusaha membangunkan supir truk yang tak sadarkan diri tersebut yang ternyata sudah tewas karena serangan jantung. Dengan susah payah Satoru mendekatkan dirinya dengan bagian kemudi truk menggunakan sepeda motor yang ditunggangi-nya. Ia pun berusaha membelokkan laju truk ke arah yang kosong menghindari tabrakan dengan anak yang hendak menyeberang tersebut. Ia “berhasil”, namun dirinya juga harus terluka karena keputusannya.

Airi yang berada tak jauh dari TKP, melihat langsung kejadian tersebut dan mengetahui bahwa Satoru terlibat dalam kecelakaan tersebut. Satoru pun dibawa ke RS dan kecelakaan tersebut membuatnya harus bertemu kembali dengan Ibunya. Setelah pemulihan di RS, Ibu Satoru memutuskan untuk tinggal bersama Satoru untuk beberapa saat di tempat tinggal Satoru, sebuah kamar kontrakan. Akibat kecelakaan itu pula Satoru dan Airi memulai percakapan yang lebih dalam dan mereka menjadi semakin akrab.

Saat membeli bahan makanan di suatu pusat perbelanjaan Satoru kembali mengalami revival, kali ini melibatkan ibunya dan Airi. Saat mencoba untuk menemukan kejanggalan, ternyata revival tersebut terhenti. Satoru merasa heran dengan apa yang terjadi. Ternyata di pusat perbelanjaan tersebut Ibu Satoru menyadari bahwa hampir terjadi penculikan anak. Sachiko Fujinuma mengenali wajah si penculik dan si penculik menyadari bahwa dirinya terlihat dan mengenal Sachiko. Kejadian tersebut membuka ingatan lama mengenai kasus penculikan dan pembunuhan berantai yang melibatkan anaknya, Satoru, 18 tahun yang lalu, saat duduk di kelas lima SD. Kasus yang berusaha dihapusnya dari memori Satoru. Sachiko akhirnya mengetahui bahwa si penculik merupakan orang yang sama dengan pelaku dari kasus 18 tahun yang lalu tersebut.

Delapan belas tahun yang lalu, terjadi kasus penculikan dan pembunuhan berantai yang memakan tiga korban. Bulan Maret 1988 tepatnya, ketika Hinazuki Kayo (10 tahun), Hiroomi Sugita (11 tahun) dan Aya Nakanishi (11 tahun) ditemukan jasadnya. Dua korban pertama adalah teman sekelas Satoru di SD Mikoto. Sedangkan Aya Nakanishi merupakan siswi dari SD lain. Yang menjadi tersangka utama adalah Siratori Jun atau sering dipanggil Yuuki-san oleh Satoru. Siratori menjadi tersangka karena tidak memiliki alibi yang kuat dan barang bukti yang ditemukan serta beberapa kesaksian menguatkan status tersangka Siratori atas kasus tersebut. Satoru meyakini bahwa Siratori bukanlah pelakunya dan memberikan kesaksian yang akhirnya diabaikan kepolisian, bahkan ibunya sendiri pun tidak mempercayai kesaksiannya. Satoru yakin Yuuki dijebak oleh pelaku sebenarnya.

Delapan belas tahun kemudian, Sachiko menyesali tidak mempercayai Satoru. Dia menangkap basah dan mencegah si pelaku yang hendak melakukan aksinya. Ketika hendak memberi tahu Satoru dan rekannya, pelaku bergerak terlebih dahulu. Bergerak lebih cepat, si pelaku menancapkan pisau tepat di bagian samping tubuh Sachiko ketika Sachiko berada di kamar kontrakan seorang diri. Sachiko yang tak berdaya, terus berusaha menggapai ponselnya yang kemudian diambil si pelaku. 

Dari luar, Satoru melihat pintu kamar kontrakannya terbuka. Ia pun heran kenapa ibunya membiarkan pintunya terbuka ketika sendirian di kamar. Tiba di muka pintu kamarnya, Satoru tercengang, tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ibunya sudah tak bergerak dan berlumuran darah. Dia mencoba melakukan CPR, namun tak menghasilkan apa-apa. Kemudian ia merasa bahwa sang pelaku penusukan masih belum jauh dari rumahnya. Ketika hendak mencari, tetangga Satoru melihat Satoru berlari menjauh dari kamarnya. Kesalahpahaman pun terjadi ketika tetangga Satoru menemukan mayat Sachiko dan melihat Satoru berlari. To make it worse, tetangga tersebut melihat Sachiko dan Satoru bertengkar sehari sebelumnya dan memanggil polisi. 

Satoru akhirnya sadar bahwa dirinya telah dijebak. Dia tersudut. Dia pun berharap revival terjadi lagi untuk mengulang kejadian ini. Sesuai harapannya, revival benar terjadi. Namun, kejadiannya berulang hingga 18 tahun yang lalu. Saat Hinazuki Kayo, Hiroomi Sugita berada di kelas yang sama. Februari 1988. Dari titik tersebut, Satoru berusaha menyelamatkan semuanya. Yuuki-san yang benar-benar tak bersalah, Hinazuki Kayo dan Sugita Hiroomi yang diculik dan ditemukan tewas dan tentu saja ibunya yang dibunuh oleh pelaku yang sama dengan pelaku yang sebenarnya melakukan penculikan dan pembunuhan berantai di beberapa kota di Hokkaido tersebut. Dapatkah Satoru menyelamatkan mereka melalui revival? Apakah Satoru menemukan pelaku sebenarnya? Apakah masa depannya berubah ketika ia berusaha merubah masa lalu?

REVIEW

Review ini saya tulis setelah melihat 8 dari 12 episode anime dan membaca 40 chapter manga yang masih on going.
Saya me-review manga dan anime-nya sekaligus hehe.

STORY

BokuMachi menawarkan cerita bergenre misteri, supernatural, dan suspense. Karena manganya merupakan cerita asli yang merupakan bahan untuk diadaptasi menjadi anime dan lebih dulu hampir selesai (ya iyalah), maka sisi cerita saya nilai berdasarkan manga yang telah saya baca.

Sekilas plot utama dalam BokuMachi boleh dikatakan mirip dengan film Butterfly Effect (2004), pada awalnya (diperkuat dengan munculnya kupu-kupu biru setiap revival akan terjadi di anime-nya). Yakni try to save the girl dengan berulang kali time travelling meskipun hasilnya malah lebih buruk dari original timeline-nya. Setelah halaman demi halaman saya membacanya (hanya menghabiskan tiga sampai empat jam-an untuk 40 chapter saya rasa), ternyata terdapat persamaan dan perbedaan. Persamaannya adalah main character (MC) berusaha merubah masa lalu untuk memperoleh masa depan yang diharapkan (Butterfly Effect, sedikit kepakan kupu-kupu akan menimbulkan riak di berbagai belahan dunia - Chaos Theory). Perbedaannya terletak pada cara dari kedua MC untuk mengubah masa depan.

Evan berusaha merubah masa lalunya untuk bisa bersama dengan Kayleen, wanita yang dicintainya, namun seberapa keras ia mencoba merubah masa lalu, hasilnya malah bertambah buruk jika tidak untuk Kayleen, maka buruk bagi teman kecilnya yang lain atau dirinya sendiri. Pada akhirnya Evan merasa keberadaan dirinya lah yang membuat semuanya menjadi berantakan dan akhirnya memutuskan untuk...

Sedangkan Satoru berusaha menyelamatkan ibunya dengan mencegah insiden penculikan dan pembunuhan berantai terjadi di kotanya serta melepaskan status tersangka pada orang yang tidak bersalah sama sekali, meskipun harus mengalami berbagai rintangan dimana dia hanya seorang anak SD dengan pikiran orang yang berusia 28 tahun dan di waktu asalnya (Tahun 2006) dia dihadapkan dengan tuduhan pembunuhan atas ibunya sendiri. Dengan pemikirannya ia berusaha untuk “mengakali shinigami (malaikat kematian)” atau malah menjadi “shinigami” itu sendiri karena di “tangan-nya”-lah nasib orang-orang tersebut ditentukan.

BokuMachi, sesuai genre-nya membuat kita penasaran dan berpikir kira-kira siapa pelaku sebenarnya dan membuat kita tanpa sadar terus membuka halaman demi halaman untuk mengetahuinya. Sukses membuat saya sebagai pembaca merasakan amarah yang dirasakan Satoru ketika ia dijebak dan melihat si pelaku melakukan penculikan dan pembunuhan berantai yang lebih parahnya lagi menimpakan kejahatan tersebut kepada orang tak bersalah secara (hampir) sempurna (there’s no perfect crimes ;D). Membuat saya menerka-nerka, siapa kiranya si pelaku yang dengan cerdiknya melakukan kejahatan dan apa motif dibalik kejahatan yang ia lakukan.
Jadi skor untuk cerita saya beri 8.4/10.

ARTWORK

Untuk manga, artwork yang disajikan Sanbe Kei kurang begitu enak dilihat sebenarnya, banyak inkonsistensi dalam penggambaran karakter. Misalnya, gambar yang membuat saya kadang keliru apakah itu Satoru atau temannya yang emang rada serupa.
Skor: 6/10

Artwork Manga (Hinazuki Kayo & Satoru Fujinuma)
Untuk anime, desain karakter dibuat lebih menarik dan halus dibanding aslinya di manga. Tentu lebih nyaman dilihat dibanding desain karakter manga. Hinazuki Kayo dan Airi Katagiri jauh terlihat lebih manis (ehem) dibanding desain karakter manganya. Selain itu, latar tempat, rasio layar yang berubah-rubah menjadi lebih sinematik (naon deuih) dan menarik. Very well executed pokok na mah. Good job A-1 Pictures!
Skor: 8.3/10

Karakter Desain di anime yang lebih "halus".
(Kiri-ke-Kanan: Airi-Kayo-Sachiko)


Untuk manga hanya dilihat segi story dan artwork.

BGM
BGM melankolis yang pas dengan genre dari BokuMachi, membawa penonton merasakan emosi dari karakter pada scene-scene emosional.
Skor: 8/10

Opening & Ending Song
Opening song dari BokuMachi sebenarnya lagu lawas yang direkam ulang, yakniRe:Redari Asian Kung Fu Generation. Pemilihan yang pas. Sedang ending song-nya, lebih mantap lagiSore wa Chiisana Hikari no Yonayang dibawakan Sayuri dengan alunan yang begaya folk yang sedang cukup tren saat ini (meureun).
Skor: 8/10

OVERALL:
Manga (40 Chapter dari ? Chapter)          : 7.2/10*
Anime Adaptation (8 dari 12 Episode)    : 8.23/10*
*Mungkin berubah setelah melihat ending-nya ;D

Saya harap review di atas cukup membantu untuk memutuskan apakah membaca manganya atau melihat anime saja atau keduanya. Saya rekomendasikan keduanya. Manga-nya tentu memberikan detail yang lebih karena anime tidak mungkin meng-cover seluruh cerita karena keterbatasan durasi. Sedangkan anime-nya dieksekusi dengan brilian menurut saya. Untuk filmnya, nudah-mudahan film-nya bisa kita tonton di bioskop kesayangan kita, see ya!
Review: Boku Dake ga Inai Machi/The Town Where Only I Was Erased Review: Boku Dake ga Inai Machi/The Town Where Only I Was Erased Reviewed by Kakikukico on Minggu, Februari 28, 2016 Rating: 5

Tidak ada komentar: